Tampilkan postingan dengan label Terhubung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terhubung. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Januari 2018

Jurnal si Dipa (Bab 4 Bagian 4)


Dilihatnya Syfa yang tengah serius membaca novel dari luar kelas, Dipa berjalan menghampirinya. Dengan tangan kiri yang memegang botol air mineral dan tangan kanan yang menggenggam kantung plastik kecil berisikan roti, Dipa memulai percakapan.

Syfa mau roti ? ” Tanya Dipa sambil mengeluarkan roti dari kantung plastik. 
Mau dong, lagi laper nih. ” Jawab Syfa yang masih berfokus pada novelnya. 
Nih, buat Syfa. ” Kata Dipa sambil memberikan roti.
Yah, srikaya ya ? ” Jawab Syfa sambil melihat bungkus roti. 
Emangnya Syfa nggak suka ya ? ” Tanya Dipa.
Kurang suka. Sukanya sama cokelat. ” Jawab Syfa. 
Yaudah deh, Dipa tuker dulu rotinya. ” Kata Dipa. 
Nggak usah dip, malah makin ngerepotin. Makasih ya rotinya. ” Jawab Syfa menahan rotinya. 
Nggak apa-apa syf. Kan ini sebagai tanda maaf kemarin. Beluman minta maaf langsung ke Syfa hehehe.. ” Kata Dipa. 
Iya dip, nggak apa-apa kok.” Jawab Syfa. 
Itu novel yang kemarin disita Bu Suci ? ” Tanya Dipa. 
Bukan, udah beda lagi. ” Jawab Syfa.
Novel yang minggu lalu belinya bareng Dipa ke gramed ? ” Tanya Dipa. 
Itu mah udah dari kapan tau selesainya. ” Jawab Syfa. 
Lah, cepet banget selesainya.” Heran Dipa. 
Iya sih cuma 215 halaman.” Jawab Syfa. 
215 halaman habis dibaca tiga hari ? ” Tanya Dipa. 
Nggak, cuma satu hari aja. ” Jawab Syfa. 
Suka banget ya sama novel ? ” Tanya Dipa. 
Iya, abis seru. Beda novel beda cerita, Setiap kita baca novel pasti kita nemuin kata-kata baru di dalamnya. ” Jawab Syfa. 
Pantes ya bener kata Feline kemarin. ” Kata Dipa. 
Feline ngomong apa emang ? ” Tanya Syfa. 
Nggak, cuma bilang Syfa itu kalo udah kena yang namanya novel, udah deh. ” Jawab Dipa.  
“ Lagian baca novel itu seru tau. Kita berimajinasi dengan dituntut bermain peran di dalamnya dengan membayangkan karakter tokoh utama sebagai kita. ” Terang Syfa. 
“ Tapikan lebih seru film. ” Kata Dipa. 
“ Nggak sih. ” Singkat Syfa. 
“ Alasannya ? ” Tanya Dipa. 
“ Karena Syfa suka novel. ” Singkat Syfa. 
“ Yeuh, alasan apa tuh kayak gitu.” Flat Dipa.“ 

Jurnal si Dipa (Bab 4 Bagian 3)

Mereka yang sibuk dengan hukumannya ditemani dengan mereka yang sibuk mengganggu dengan ocehan serta celotehan. Pada dasarnya, semua akan terhubung melalui suasana dan interaksi yang akhirnya akan menyatukan satu sama lain. Novel Syfa kembali setelah dibarternya dengan lembar folio berisikan janji kepada Bu Suci. Hukuman sudah diselesaikan, namun tidak dapat menghapus nama mereka yang sudah tertulis di dalam buku kasus.

Hari semakin siang dan pelajaran terakhir segera dimulai. Keributan kelas naik menjadi dua kali lipat pasca perut yang kosong telah terisi kembali. Dalam siklus keributan kelas, terdapat empat fase yang dibuat oleh para pelajar. Fase pertama merupakan fase keributan sedang. Biasanya terjadi pada saat sebelum jam pelajaran dimulai hingga pelajaran pertama selesai. Hal ini terjadi karena masih ada siswa yang harus beradaptasi dengan suasana kelas (setengah ngantuk), masih ada yang melanjutkan tidurnya bahkan masih ada yang belum bangun dari tidurnya. (belum berangkat sekolah) Tetapi banyak siswa yang sudah bergosip mengenai ini itu hingga sibuk menyalin PR yang belum dikerjakan.

Fase kedua merupakan fase keributan yang dikategorikan rendah. Dikarenakan pada kursi barisan pertama dan kedua fokus menangkap materi yang tengah diberikan. Kursi barisan ketiga dan keempat terpisah menjadi dua bagian, bagian pertama ngobrol dengan nada yang direndahkan dan bagian kedua sesekali ngobrol sesekali menyimak (hanya menyimak, entah paham atau tidak.) Kursi barisan kelima dan keenam merupakan keramat. Bagian tersuram dalam dunia persekolahan. Pada barisan ini terdapat kumpulan pelajar yang populer dibicarakan diruang guru. Bagian ini sebenarnya sama dengan barisan pertama dan kedua, sama-sama fokus. Barisan pertama dan kedua fokus belajar dan barisan kelima serta keenam juga fokus belajar (tapi dalam mimpinya.) Ajaibnya ketika sukses, barisan pertama dan kedua menjadi Dokter, Guru, Akuntan, Programer dan lainnya. Sedangkan barisan kelima dan keenam menjadi pemilik tempat dimana barisan pertama dan kedua kerja. Entah itu pemilik rumah sakit, pemilik sekolah, pemilik perusahaan dan bahkan menjadi stackholder.

Fase ketiga merupakan fase keributan lanjut. Biasanya terjadi pada saat menjelang bel istirahat berbunyi. Hal ini terjadi karena veteran kelas (barisan kursi kelima dan keenam) terbangunkan oleh aroma jajanan dari arah kantin. Ditambah dengan hampir 50% konsentrasi belajar siswa sudah mulai menuju kantin dan koperasi sekolah. Dan terakhir adalah fase keributan final. Fase dimana perut dan stamina sudah terisi lagi ditambah dengan menjelang berakhirnya kegiatan belajar mengajar. Hanya ada dua tipe guru yang mampu mengatasi suasana itu. Kalau bukan guru killer, ya guru penyabar.

Jurnal si Dipa (Bab 4 Bagian 2)

Dengan cepat Bu Suci berjalan menuju arah mereka sambil menahan tawa. Sempat lama juga Bu Suci menenangkan dirinya untuk berhenti tertawa. Mika menuruti perintah Bu Suci untuk segera membersihkan wajahnya dibantu dengan sabun muka yang diberikan oleh Derry. Kasus dibuka. Selepas bel istirahat berbunyi, Dipa, Syfa dan Mika langsung menghadap menuju Bu Suci di ruangannya. Syfa menceritakan kronologis mengapa ia spontan menyebut nama Dipa dengan jelas. Lanjut dengan kronologis muka Mika yang bisa tercoret-coret. Selama Syfa dan Mika cerita, Dipa hanya diam dan menundukan kepala. Selepas bercerita, Dipa mengakui kesalahan yang telah ia buat. Meskipun terbukti Dipa bersalah, akan tetapi mereka bertiga kena hukuman.

Apa nih bacaannya ? Saayaa berrjanjii tiidak aakan meengganggu keetertiibann saat keegiatan belajar meengajar lagi. ” Ledek Pradia dengan mengeja tulisan Dipa. 
Mantap tuh dip, disuruh sampe berapa lembar folio ? ” Tambah Rafif. 
Satu lembar doang sih untungnya. ” Jawab Dipa santai. 
Lah, Mika sama Syfa kena juga ? ” Tanya Kirana menuju meja Dipa dan Syfa bersama kelompok belajarnya. 
Yang salah kan Dipa, kenapa kamu kena juga syf ? ” Tanya Feline. 
Aku juga salah line. ” Akui Syfa. 
Tapi masih untung Mika sama Syfa cuma disuruh nulis satu halaman. Lah gua ? ” Sela Dipa. 
Dari mana untungnya ? lu bikin mereka kena masalah. ” Kata Feline. 
Tulisan kalian beda-beda ya isinya ? ” Tanya Indriana. 
Iya nih, Mika tulisannya itu saya berjanji tidak akan tertidur saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. ” Info Agung. 
Saya berjanji tidak akan membaca novel pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Lah, Syfa tadi ga nyimak materi emang tadi ? ” Kaget Grace. 
Hehehehe… enggak Grace.” Jawab Syfa. 
Dia mah emang dari dulu begitu kalo udah kena novel. ” Kata Feline.  
Yeuh.. kalo kayak gini mah emang kalian semua yang salah. ” Kata Zisochi. 
Tuh denger kata Zico, semua yang salah. ” Kata Dipa.
Tapi emang biasanya elu yang buat masalah terus. ” Bela Feline. 
Gua nggak tau apa-apa, tiba-tiba kena hukuman. Kampret emang Dipa. ” Keluh Mika. 
Emang Dipa kampret dari dulu. Otaknya diketiak hahaha..” Nyeletuk Pradia. 
 “ Lagian nggak ada yang bisa diajak ngobrol. Syfa lagi asyik sama dunia nyamannya. Pradia lagi asik ngobrolin cewe. Rafif juga lagi asik ngomongin basket, padahal NBA seasonnya belum mulai. ” Keluh Dipa. 
Dih kampret, tau aja lu kalo gua lagi ngomongin cewe. ” Tanya Pradia. 
Lu juga kok tau kalo gua sama Zico lagi bahas NBA ? ” Penasaran Rafif. 
Tau lah, lu kan paling semangat kalo bahas tentang cewe, sampe mata lu berbinar-binar. ” Jawab Dipa. 
Kalo lu raf, udah pasti bahasnya basket. Pembahasan lu kan cuma basket doang. Seputar IBL dan NBA. Tambah Dipa. 
“ Kampret juga lu dip.” Kompak Rafif dan Pradia.

Jurnal si Dipa (Bab 4 Terhubung)

Letak pelajaran yang berdempetan dengan waktu istirahat itu sangatlah berat dirasa. Apalagi ketika menjelang beberapa menit menuju waktu istirahat. Dikarenakan sudah hampir 50% konsentrasi belajar sudah mulai menuju kantin dan koperasi sekolah. Imaji akan bumbu kacang siomay yang pedas serta gurih, cireng hangat dan besar sudah memanggil hingga ke dalam perut. Rempah-rempah serta topping dari nasi goreng seafood tak mau kalah ambil peranan. Ditambah dengan segarnya es selasih beserta es susu kedelai dan es kacang hijau yang dibungkus dengan plastik Polyethylene berukuran 15 x 30 cm mengalahkan cuaca panas hari ini. Apabila alergi dengan susu dan kacang, es teh dan es jeruk dengan wadah cup plastik 16 oz dengan senang hati selalu ada.

Sesekali Dipa melihat jam tangannya untuk memastikan berapa menit lagi pelajaran akan berakhir. Dengan pandangan yang sudah tidak fokus pada pelajaran, Dipa mengalihkan pandangan menuju Syfa yang sedang membaca novel barunya. “ Sepertinya kalau sudah dengan novel, Syfa asyik sendiri hingga masuk kedalam dunia nyamannya. Hingga tak berasa kalau sedang diperhatikan. Bahkan dengan materi ini aja dia cuek ”. Simpulan Dipa dalam hati. Diubahnya haluan pandangan Dipa menuju teman-temannya. “ Agung dengan Pradia mungkin lagi bahas tentang perempuan, soalnya keliatan banget dari matanya Pradia yang berbinar-binar ”. Terka Dipa. “ Rafif dan Ziso pasti lagi bahas basket. Lagipula apalagi pembahasan mereka selain basket ”. Yakin Dipa. “ Kalo Mika gimana ya ? ” Tanya Dipa.

Penasaran tersebut berubah menjadi penyesalan seketika Dipa menoleh kebelakang tepat dimana Mika duduk. “ Seharusnya memang tak perlu menoleh kebelakang, karena sudah pasti dunia nyamannya seperti ini. ” Sesal Dipa yang melihat Mika tertidur pulas. Merasa akan bosan, Dipa memutuskan untuk menjahili Mika. Dengan pulpen gel hitam bermata 0,8 mm, Dipa mulai berkarya. Goresan demi goresan dibuatnya tanpa membangunkan Mika. Tidak puas dengan Mika, Dipa bersiap menjahili Syfa. Berkedok membungkukkan badan dan meregangkan kedua tangan kearah depan, Dipapun beraksi. “ buk !! ” Suara kecil dari tertutupnya novel membuat Syfa serta seisi ruangan kaget.

Dipa !! ” Spontan Syfa membuat pandangan yang lain tertuju padanya. Kaget tersebut kemudian berubah menjadi tawa setelah pandangan mereka terhadap Syfa dikalahkan oleh bangunnya Mika. Wajahnya membuat Bu Suci harus menahan gelak tawa. Mika yang bingung pun bertanya tanya “ Ada apa sih ? ” Raka segera menjawab pertanyaan Mika setelah berhasil menghentikan tawanya beberapa detik “ Apus dulu tuh yang ada di pipi lu .” Entah nurut atau nyawanya belum kembali seutuhnya, Mika melakukan apa yang disuruh Raka. Suara tawa menjadi lebih pecah dua kali lipat dari sebelumnya dikarenakan pipi Mika yang menjadi hitam akibat tinta.